Tepat pukul 4 sore aku berangkat
untuk latian cheers di sekolah. perjalanan menuju halte bus di dekat rumahku
cukup jauh. Aku berlari menuju halte bus. Setelah cukup dekat dengan halte bus,
bus yang tadinya menunggu penumpang naik baru saja melaju. Padahal aku baru
saja telat 1 menit. Aku memutuskan untuk menghubungi Tasya untuk mengantarkanku
ke sekolah. Beberapa saat Tasya membalas smsku ternyata Tasya tidak bisa
menjemputku karena Tasya sekarang akan segera berangkat ke bandara untuk
menjemput mamanya yang baru saja pulang dari Malaysia. Dan jika aku menghubungi
Lena tidak mungkin aku mengganggunya yang sekarang lagi ada les di BBB. Jadi
mau tidak mau aku harus menunggu bus berikutnya di halte bus. Aku mondar-mandir
di depan halte bus. Aku takut jika aku telat aku di marahin kak Farah. Kak Farah
adalah leader cheerleader sekolahku. Akhirnya aku berjalan kaki dengan sedikit
cepat ke sekolah. Beberapa waktu tiba-tiba ada sepeda motor yang memotong
jalanku.
“mau bareng ngga? Kamu anak cheers
SMANSA kan? “Tanya lelaki itu dengan tegas.
“ Kamu siapa? Kok tau kalau aku
anak cheerleader SMANSA? “tanyaku kebingungan.
“ Aku pernah lihat kamu latian
cheers waktu aku latian basket di sekolah, sudah bareng aku aja. Bukannya kamu
ada seleksi buat tampil di DBL? buruan naik “jawab lelaki itu.
Tidak tahu kenapa aku menerima
tawarannya dan mempercayainya untuk mengantarkanku ke sekolah, padahal aku sama
sekali tidak mengenalnya. Dan akhirnya aku naik di bonceng lelaki itu. Di
perjalanan aku bertanya kepadanya siapa dia sebenarnya. Ternyata dia seniorku,
namanya Raditya Geivaldo. Kak Radit adalah anggota tim inti basket di
sekolahku.
Sesampainya di sekolah aku
turun dari motor gedenya kak Radit dan mengucapkan terimakasih kepadanya. Saat
tiba di aula, ternyata latian sudah di mulai. Kak Farah menghampiriku dan
memarahiku karena aku sudah telat 10 menit. Akhirnya aku di hukum untuk
melakukan push up sebanyak 50 kali di lapangan tepat di depan anak-anak basket.
Lalu aku mau melakukannya karena ini memang kesalahanku. Tiba-tiba kak Radit
menghampiriku, dan aku berdiri di hadapannya.
“Ngapain kamu push up di sini?
“Tanya kak Radit agak heran.
“Aku lagi menjalankan hukuman yang di berikan
kak Farah soalnya aku telat “jawabku santai.
“Keterlaluan sekali Farah, hanya
telat saja di hukum push up di depan anak-anak basket. sudah kamu kembali sana,
kalau kamu di Tanya kenapa kembali, bilang saja aku suruh. “kata kak Radit
sedikit terlihat marah.
Dan akhirnya aku
kembali ke aula. Saat aku kembali ke aula, dengan spontan kak Farah menoleh ke
arahku.
“Lohloh, kamu sudah menjalankan
hukumanmu? “bentak kak Farah.
“ Aku di suruh kembali ke aula sama
kak Radit kak “jawabku polos.
Kak Farah langsung ke
luar menuju lapangan untuk menghampiri kak Radit. Mereka mengobrol yang
sepertinya cukup serius dan saling membentak. Aku tidak tahu pastinya mereka
membicarakan soal apa. Dan sampai akhirnya kak Farah kembali ke aula. Akhirnya
kita di suruh untuk langsung memulai latian. Di sepanjang latian berlangsung
kak Farah lebih sering memarahiku dan membentakku. Yang di bilang aku kurang
powerlah, yang terlalu cepatlah. Tapi aku tetap sabar, mungkin itu yang
terbaik. Akhirnya latian cheers sore itu selesai. Dan aku jalan kaki menuju
halte bus di dekat sekolah. Tiba-tiba kak Radit menghampiriku dan mengajakku
untuk pulang bersamanya. Dan Aku tidak
menolak tawaran kak Radit. Di sepanjang perjalanan aku bertanya kepadanya
tentang apa yang mereka bicarakan tadi. Ternyata kata kak Radit, kak Farah
tidak suka dengan sikap kak Radit yang ikut campur soal hukuman push up ku
tadi. Dan kak Radit bercerita kepadaku bahwa kak Farah adalah mantan pacarnya.
Dan mereka putus di karenakan kelakuan Farah yang sangat membuat kak Radit
hilang feeling kepadanya.
sesampai halte di dekat
rumahku dia menanyakan rumahku dimana. Dan
aku menunjukkan arah jalan menuju rumahku. Sesampainya di rumahku aku
menawarinya untuk mampir ke rumahku dulu. Dan dia bilang dia buru-buru.
Akhirnya setelah mengantarkanku dia langsung pulang. Dan aku masuk kerumah
untuk pergi sholat, belajar, makan malam, dan pergi tidur.
Keesokan harinya aku
menceritakan yang terjadi kemarin kepada
kedua sahabatku yaitu Tasya dan Lena. Saat aku menyebutkan nama Radit,
tasya dan Lena langsung tanggap. Dan ternyata mereka sangat tahu siapa kak
Radit. Kata Lena dan Tasya kak Radit adalah kapten basket di sekolah kita yang
bernomer punggung 30. Dan dia sangat terkenal di sekolahku. Tetapi aku baru
saja tahu radit kemarin sore, mungkin aku saja yang ketinggalan informasi. Saat
aku menceritakan kejadian sore kemarin lena dan tasya sangat iri denganku.
Bel pulang sekolah berbunyi, dan
aku segera pergi meninggalkan sekolah. Seperti
biasa aku menunggu bus di halte bus. Tiba-tiba kak Radit menghampiriku dan
mengajakku untuk pulang bersamanya. Dan aku tidak menolaknya. Sesampai di rumah
lagi-lagi kak Radit tidak memampir.
setelah sholat maghrib,
jarang-jarang dering hpku berbunyi. Yaitu nada dering sms, aku berfikir bahwa
itu sms dari operator. Saat adzan isya selesai berkumandang hpku berbunyi nada
dering lagunya Britney spears – baby one more time. Yaitu nada dering telephone
hpku. Saat aku menghampiri hpku ternyata telephone itu sudah mati. Dan aku buka,
ternyata ada sms dari kak Radit. Aku sangat bingung, dia tahu nomer ponselku
dari mana. Dan aku membalas smsnya. Dan akhirnya kita berdua jadi sangat sering saling
mengirimkan pesan singkat melalui telephone seluler.
Sepanjang hari aku dan kak
Radit semakin dekat. Dan kak radit pun sudah mengenal baik kedua orang tuaku.
Dan mamaku pun juga sudah memegang kepercayaan kepada kak Radit untuk
menjagaku.
suatu ketika salah satu
sahabatku dekat dengan kak Radit, yaitu Lena. Awal kedekatan mreka aku sangat
memaklumi. Tetapi semakin lama mereka semakin dekat. Di karenakan kak Radit dan
Lena semakin dekat, kak radit jadi sangat asing terhadapku. Aku tidak merasa
curiga awalnya. Aku membiarkan kedekatan mereka. ternyata lama kelamaan mereka
semakin lebih akrab lagi. Dan setiap pulang sekolah mereka pulang bersama dan
kak Radit tidak pernah mengajakku pulang bersamanya lagi. Tidak tahu kenapa semakin lama aku semakin
jengkel dengan Lena karena dia sudah tidak peduli denganku dan Tasya. Sedangkan
Lena lebih sering berduaan dengan kak Radit. Aku menceritakan ini kepada Tasya.
Dan ternyata Tasya juga ingin sekali menceritakan ini kepadaku tetapi dia belum
berani mengatakan ini kepadaku. Akhirnya aku dengan Tasya tidak akan mengganggu
Lena dan tidak memperdulikannya.
seusai makan malam,
tiba-tiba bel rumahku berbunyi dan mamaku menyuruhku untuk pergi membukakan
pintu. Dan ternyata yang berkunjung ke rumahku adalah kak Radit. Aku sedikit
terkejut karena beberapa waktu ini kak Radit sudah sangat jarang bermain
kerumahku.
“Siapa sayang…?“teriak mama.
“ Kak radit maaa “jawabku.
Lalu mama menyambut kak Radit dengan hebohnya seperti baru
ditinggal anaknya 1 tahun di luar negeri.
“Eh Radit, masuk dit kok tante baru
liad kamu ya “sambut mama.
“ Hehe iya tante sedikit sibuk
akhir-akhir ini, kangen sama Radit ya tanteeee? “jawab kak Radit
pringas-pringis .
“ tau aja kamu “jawab mama genit.
“ah mama ada tamu kok malah di
berhentiin di depan pintu, engga di suruh masuk? “tanyaku agak judes .
“ eh iya tante kelupaan yuk masuk
dit, kamu mau minum apa dit? Uda makan ? “jawab mama sok perhatian.
“Em minum aja tante, terserah apa
aja yang penting seger “jawab kak Radit sok imut.
Tanpa jawab lagi mama langsung
pergi ke dapur dan meninggalkanku dengan kak radit di ruang tamu. tanpa
basa-basi lagi aku langsung mengawali pembicaraan.
“Ada apa kesini? “tanyaku cuek .
“memangnya aku tidak boleh ingin
main kerumahmu, apa kamu tidak kangen aku? Jangan-jangan kamu emang kangen aku
lagi? Ya kaaaan.. “jawab kak Radit cengengesan.
“Emang ada yang lucu ya? Gausah GR! “jawabku
sinis.
“ Eh eh, lu kenapa sih brina kok
sensi banget malem ini, aku kurang kece ya malam ini? Kurang wangi ya? Yauda
deh besok aku make parfum yang lebih banyak lagi “jawab kak Radit sambil
brantakin rambutku.
“Ah apa sih,
kamu makin lapa makin menjijikan deh ya kak jangan sok asik aku ga suka ilfil
ngerti nggak, pulang sana aku mau belajar aku gabisa di ganggu oke “jawabku
judes sambil beranjak pergi dari ruang tamu dan tidak memperdulikan kak Radit.
Beberapa waktu kemudian aku mendengar suara
cengengesan mama dengan kak Radit, aku langsung pergi ke ruang tamu. Dan
ternyata kak Radit belum meninggalkan rumahku dan malah asik dengan orang
tuaku.
“ Ngapain masih disini, nggak ada
kerjaan lain? Urusin sana Lena, kasian tuh nggak kamu urusin, jadi mending kamu
buru-buru cabut pergi dari sini atau aku usir paksa“ kataku sambil membentak
kak Radit.
“ Kamu kenapa sih Brin,
jarang-jarang aku liad kamu kayak gini, nggak pernah ya kamu bentak aku separah
ini. Ngapain kamu sangkut-sangkutin Lena? Bermasalah dengan Lena? “jawab kak Radit
sedikit membentak.
“ Seharusnya aku yang tanya ke kamu
kak! Kamu itu kenapa ? iya masalah, masalah banget. Udah buruan pergi, berisik
ngerti nggak! Tunggu apa lagi pergi sana “jawabku dengan muka penuh kebencian.
“ Ini ada apa ya anak muda kok
malem- malem berantem kayak gini, kalo ada masalah itu di selesaiin baik-baik,
sini sayang yuk di omongin baik-baik biar nggak ada salah paham “sela mama.
“Hash ga ada waktu, aku mau belajar
“jawabku langsung pergi ke kamar.
“Brin, kamu kenapa sih? Kurang kerjaan marah-marah kaya gitu. Baru kaya gini
kamu kayak gini. Bukain pintu kamarmu dong, kamu marah ya sama aku? Di omongin
baik-baik kek, jangan gini dong” ucap kak Radit sambil menggedor pintu kamarku.
“nggak ada yang perlu di omongin! Aku nggak marah sama kamu, aku cuma benci
sama kamu. Udah pergi sana, anggep aja kita nggak pernah kenal oke. Dan jangan
pernah main kerumahku lagi! Uda aku mau belajar gausah jawab, enek denger
suaramu” jawabku teriak-teriak dari kamar.
ternyata kak Radit benar-benar
menuruti apa yang aku katakan. Aku baru sadar dengan apa yang barusan aku
katakana kepadanya. Aku sedikit menyesal. Tapi tidak tahu kenapa ucapan itu
sangat reflex aku keluarkan. Memang aku benar-benar sangat jengkel kepadanya.
Tapi apa boleh buat semuanya sudah sangat terlanjur. Aku memutuskan untuk tidak
memikirkan hal ini. Dan melanjutkan tugas karya ilmiahku.
Paginya aku berangkat
sekolah naik ojek. aku bangun kesiangan gara-gara begadang mengerjakan karya
ilmiah. Jalanan sangat becek, di karenakan tadi malam hujan sangat deras
sekali. Dan ojeknya sangat pelan, aku sangat takut telat sampai di sekolah. Aku
menyuruh bang ojeknya untuk mengendarai motornya sedikit lebih cepat. Tiba-tiba
ada motor gede yang mengibas air ke arahku. Aku sangat emosi dan berteriak
kepada yang mengendarai motor gede itu. Tapi sepertinya aku mengenal itu motor
siapa? Sambil mengingat ingat ternyata itu motor kak Radit. Rasa jengkelku
terhadapnya semakin bertambah. Aku memutuskan untuk pulang kerumah dan
bercerita kepada mama. Saat sampai di rumah saat aku ceritakan kepada mama, eh
malah mama membela kak radit bukannya aku yang jelas-jelas anaknya. Aku kecewa
dengan semuanya.
malamnya kak Radit sms
aku. Dia menanyakan apakah aku masih marah kepadanya. Aku mengabaikan smsnya
dan memutuskan untuk tidak membalas smsnya sekaligus mematikan hp. Tiba-tiba
mama membuka pintu kamarku dan masuk ke kamarku. Dan langsung membuka
pembicaraan.
“kamu kenapa sih sayaaaang? Ada
masalah ya sama Radit? Cerita dong ke mama mungkin mama bisa memberi solusi” kata
mama sambil membelai rambutku.
“engga ada apa-apa kok ma, beneran deh” jawabku santai sambil langsung
melanjutkan belajar ips.
“jangan membohongi mama. Handphone kamu matiin ya? Radit barusan sms mama”jawab
mama.
“dari tadi hp aku matiin ma, sengaja biar engga ngeganggu Brina belajar. mama
kenapa sih belain kak Radit terus. Sebenernya yang anaknya mama aku apa kak
radit?” jawabku.
“bukannya gitu nak, kata radit kamu sekarang berubah, mama jadi khawatir sama
kamu.”jawab mama lagi.
“khawatir kenapa? Aku nggak kenapa-kenapa kok. Ya justru kak Radit itu yang
berubah. Sudahlah ma gausah di bahas. Gausah peduliin kak radit lagi. Anggep
aja kak radit ga pernah mengenal mama dan aku ok. Brina mau belajar dulu ma”jawabku
jelas.
“oke lebih baik kamu bicarakan seusai sekolah besok di sekolah”jawab mama.
Aku pura-pura tak mendengar apa
yang di bilang mama. Setelah belajar aku langsung pergi tidur. Dan keesokan
harinya saat di sekolah aku melihat kak Radit dengan Lena berangkat sekolah
bersama. Aku tak memperdulikan mereka dan aku tidak menyapa mereka. Ketika aku
masuk kedalam kelas, tiba-tiba Tasya langsung menghampiriku dan terbata-bata
seperti ingin membicarakan sesuatu yang penting.
“kamu kenapa sih sya?” tanyaku
bingung.
“em.. emm.. LenaLenalena…”Tasya berdehem.
“kenapa Lena? Yang jelas dong sya!” jawabku tegas.
“mungkin bukan saatnya kamu tau sekarang brin, oke aku bakal ngasih tau kamu
nanti sore”tiba2 Tasya tenang.
Sore aku latihan cheers di sekolah, tiba-tiba Tasya menelphoneku.
Aku mengangkat telephone Tasya.
“hallo assalamualaikum Brina?”
salam Tasya sedikit dengan suara tegang.
“waalaikumsalam Sya? Ada apa? Aku gabisa lama-lama nih, aku lagi latian cheers
nih. Nanti aja gimana? Nanti aku yang telephone deh” jawabku.
“lena kecelakaan Brin….”jawab
Tasya.
“yang benar saja kamu Tasya? Jangan bercanda ah”jawabku.
“aku srius Brin, dia baru saja kecelakaan sama kak Radit di lampu merah dekat
KFC. Sekarang dia ada di rumah sakit makmur di UGD. Aku diberi tahu mamanya ”
jawab Tasya.
“yang benar? Oke kamu aku jemput kita kesana sekarang. Kamu siap-siap oke”
jawabku buru-buru dan langsung mematikan telephone dari Tasya.
Aku langsung meminta izin kepada
kak farah untuk mengizinkanku pulang. Akhirnya aku diizinkan kak farah. Dan
tanpa basa-basi lagi aku langsung pergi ke rumah Tasya untuk menjemputnya dan
kerumah sakit. Sesampainya di rumah sakit aku melihat kak Radit berbaring
dengan banyak luka di sekujur tubuhnya. Aku mendekati kak Radit, dan tidak tahu
kenapa aku merasakan perih yang di rasakan kak Radit. Aku duduk di sebelah kak
Radit dan menangis hingga tertidur.tiba-tiba kak Radit terbangun dan akupun
ikut terbangun.
“kamu uda nggak marah kan sama aku?
Aku tidak ada apa-apa kok sama Lena”jawab kak Radit sambil membelai rambutku.
“aku nggak marah kok, bagaimana
ceritanya kakak bisa sampai seperti ini. Dan bagaimana bisa juga kakak bisa
bersama Lena saat kecelakaan?” tanyaku pelan.
“aku akan cerita kepadamu, tapi
kamu harus berjanji kalau kamu tidak akan marah lagi denganku” jawabnya sambil
mengarahkan jari kelingkingnya kepadaku.
“iya aku janji, tapi ingat jangan pernah membuatku kecewa lagi” jawabku sambil
menerima jari kelingking darinya.
“aku tadi berbicara kepada Lena agar bisa lebih jaga jarak darinya, agar kamu
tidak mengira kalau aku dan Lena ada apa-apa. Dan aku menyuruh Lena untuk
menjelaskannya kepadamu agar kamu tidak marah lagi kepadaku. Dan beberapa waktu
ini aku tidak mengajakmu pulang bersama karena Lena memaksaku untuk mengantarnya
pulang. Karena dia bilang, mobilnya lagi di bengkel. Aku merasa tidak enak jika
aku menyuruhnya untuk pulang sendiri. Dan beberapa waktu ini, dia memaksaku
untuk jadian dengannya, dan akupun tidak menerimanya” jawab panjang kak Radit.
“kenapa kamu tidak menerimanya? Aku kira kalian berdua sudah berpacaran sejak
lama”jawabku sewot.
“tidak Brina, semuanya tidak sepertinya yang kamu pikirkan. Memang dia seperti
menjauhkanku dari kamu. Maka dari itu aku meluangkan waktu kerumahmu untuk
menemuimu di waktu tidak ada tugas sekolah” jawab lagi.
“oke, terus sekarang bagaimana?”jawabku.
“aku sudah berbicara kepada Lena, agar silaturahmi denganmu tidak terputus. Aku
juga sudah menjelaskan tentang perasaanku yang sebenarnya bahwa aku tak
menyukai Lena, tetapi aku menyukaimu Brin” jawab kak Radit sambil memegang
tanganku.
“menyukaiku? Sejak kapan? Aku tidak pernah menyadari bahwa kau menyukaiku kak.
Jangan begitu kak, aku tahu kok kalau sebenarnya kak Radit menyukai Lena”
jawabku biasa.
“tidak Brin, kamu salah. Aku menyukaimu sebelum kamu mengenalku.aku sudah lama
ingin menyatakan perasaanku ke kamu. Tapi waktunya selalu tidak tepat dan aku
tidak berani.”jawab kak Radit.
“jadi sekarang mau kamu…..” jawabku langsung di sela kak Radit.
“aku mau kamu sekarang jadi teman terdekatku bisa di bilang pacar. Kamu mau kan
Brin, aku tahu kamu tidak akan mengecewakanku” jawab kak Radit memelas.
“terima ya Brin, maafin aku kalau selama ini aku menjauhkanmu dari kak Radit.
Aku sadar cinta itu tidak dapat di paksakan. Kamu masih sahabatku kan Brin? Aku
ingin lihat kamu sahabatku bahagia dengan orang yang aku sayang” tiba-tiba Lena
terbangun dan menyela pembicaraanku dengan kak Radit.
“sewaktu kalian berdua dekat aku memang sangat cemburu, dan dari situlah
muncullah sebuah rasa yang tak terduga” jawabku.
“jadi sebenarnya kamu juga menyukaiku? Jadi bagaimana jawabanmu?” Tanya kak
Radit.
“aku juga tak bisa membohongi perasaanku”jawabku.
“jadi kita pacaran kan sekarang?” sela kak radit.
“hehem” jawabku.
“ciye uda jadian, selamat ya” lena mengucapkan selamat kepadaku dan kak Radit.
Akhirnya aku berpacaran dengan kak
Radit hingga umur 24 tahun. Kak Radit berencana untuk segera melamarku. Dan
sekarang aku sudah menjadi pramugari di salah satu bandara di Indonesia dan kak
Radit sudah sukses menjadi dokter hewan dan membuka bisnis kucing. Lena pun
sudah menjadi guru di sekolah Kristen Surabaya. Dan sahabatku satunya Tasya
sudah punya lembaga bimbingan belajar yang terkenal di Indonesia. Kak Farah
sekarang sudah menjadi dancer di acara stasiun tv swasta.