Aku
terbangun dari tidur lelapku. Sekarang menunjukkan pukul 3 dini hari. Aku
melihat layar telephone selulerku yang tidak terlalu mahal tapi berkualitas
baik. Pada layar handphoneku menunjukkan bahwa hari ini adalah tanggal 19
September. Aku kembali tidur dengan bergelut selimut tebal angrybirds favoritku
itu.
Beberapa
jam kemudian aku terbangun lagi dalam tidurku. Aku memaksakan diri untuk tetap
tidur, tetapi aku sedang memikirkan sesuatu sampai-sampai aku tidak dapat
melanjutkan tidurku. Aku berusaha keras untuk mengingat-ingat apa yang harus
aku lakukan.
Satu jam telah berlalu, sudah
selama ini tetapi aku belum teringat akan hal sesuatu yang aku fikirkan. Dan
sampai akhirnya aku tetap memutuskan untuk kembali tidur dan tidak memikirkan
hal bodoh yang aku fikirkan berjam-jam hingga aku mengorbankan waktu tidurku.
Tiba-tiba aku mendengar suara
ketukan tangan di depan pintu kamarku. “Shabrina bangun nak.. Apa kamu hari ini
tidak pergi kesekolah? Coba lihat jam, ini sudah pukul 6 lo.” teriak mama dari
luar kamar. Aku melihat layar handphone murahku yang canggih itu. Tak kusangka
ternyata mama tidak membohongiku, ini benar-benar menunjukkan pukul 6 pagi.
”ayo sayang.. bangun! Nanti kamu terlambat pergi kesekolah. Jangan tidur lagi!”
teriak mama lagi. “iya ma, ini shabrina langsung siap-siap ya ma.”jawabku
dengan lekas membereskan tempat tidur dan langsung pergi ke kamar mandi.
Di sepanjang jalan aku melajukan
sepeda motor warna merahku dengan sangat kencang. Aku tidak memperdulikan
orang-orang yang meneriakiku. Aku terus melaju dengan kecepatan tinggi dengan
sedikit ugal. Sesampainya di sekolah, aku terlambat hanya 1 menit. Aku
menyesal, karena hasil balapku pagi ini tidak membuahkan hasil. Aku mencoba
merayu satpam di sekolahku dengan berbagai sogokan. Awalnya, satpam sekolahku
yang tidak terlalu besar tetapi memiliki kumis yang cukup menarik untuk dicukur
ini gagal aku rayu. Namun, aku tetap berusaha dengan memberi sogokan uang lebih
besar dari yang aku tawarkan sebelumnya. “bagaimana pak dengan yang warna biru
ini? Lumayan deh pak, buat beli kopi, rokok, mau jajan, mau gorengan mah sisa
pak. Dijamin ngak rugi deh kalo bapak mengijinkan saya masuk” rayuku dengan
jurus seribu gombalan. “boleh juga lah dek, lumayan juga. Benar katamu, bapak
bisa ngpi untuk 3 sampai 7 hari kedepan. Oke, bapak ijinkan masuk. Tapi ingat,
jangan terlambat lagi ya besok!” jawab satpam yang sudah sangat luluh dengan
ucapanku. Dan sampai akhirnya aku langsung berlari menyusuri lorong sekolah,
dan langsung pergi ke kelasku.
Jam pelajaran berlangsung sangat
menegangkan. Karena jam pelajaran pagi ini adalah jam pelajaran matematika
peminatan. Teman-temanku, terlihat tidak pernah terlihat senang mengikuti
pelajaran ini. Nabillah temanku malah asyik di dunia mimpi dengan beralaskan
tangan di atas meja. Haris yang jadi cowok populer di kelasku yang katanya
pintar matematika dan fisika itupun tidak memperdulikan guru malah asyik
bermain PES di laptopnya. Sedangkan anak yang lain ada yang memainkan
handphone-handphone canggih yang mereka miliki. Tiba-tiba handphoneku yang
canggih berwarna putih itu bergetar di saku rok sekolahku. Ternyata ada
telephone dari mama. Aku langsung meminta izin guruku yang mengajar waktu itu
untuk pergi ke toilet. “halo assalamualaikum, ada apa ma?” tanyaku ketika menjawab
panggilan telephone selulerku. “mama hanya mau mengingatkan saja, apa kamu
ingat? Bahwa hari ini adalah ulang tahun Andra yang ke 17 tahun.” Jawab mama.
“Andra teman smp shabrina yang pindah di Singapore itu?” jawabku sambil
mengingat-ingat. “iya Andra, teman SMPmu dulu. Dia tadi menelephone mama, dia
menanyakan kamu. Katanya, kalau besok dia mengadakan pesta ulang tahunnya yang
ke 17 di Singapore. Dia bilang, dia akan membelikan ticket pesawat untuk pergi
ke Singapore malam ini.” Jawab mama lagi. “wah Shabrina tidak mungkin menolak
kesempatan emas bertemu Andra.” Jawabku riang. “bukannya mama mengecewakanmu.
Kamu belum memiliki pasport untuk pergi ke Singapore, dan mengurus pasport
tidaklah mudah untuk hitungan jam seperti ini” jawab mama. Aku tadi tidak
memikirkan hal itu sampai sedetailnya ma, ya sudahlah.. mungkin lain waktu.
Shabrina kembali ke kelas dulu ya ma.
Assalamualaikum.” Jawabku sekalian mengakhiri telephone yang aku lalui dengan
mama.
Aku langsung kembali ke kelas dan
membuka aplikasi line untuk menghubungi Andra. Aku sapa Andra dengan “Hi”.
Namun belum ada balasan dan notifikasi baca di ruang obrolan line ku. Aku
memutuskan untuk memulai obrolan melalu facebook. “Hi Andra, apa kabar
Singapura? Bagaimana disana? Pasti banyak temen baru ya, gaya bener deh nggak
pernah kabarin aku. Oh iya, selamat ulang tahun yang ke 17 tahun ya Andra. Maaf gabisa terima
tawaran kamu buat ikut pesta ulang tahunmu. Pasti kamu sudah di beritahu mama
kan soal ini, bahwa aku gabisa terbang karena aku belum memiliki passport.
Kadonya nyusul waktu ulang tahun aku yang ke 17 ya, aku harap kamu datang
kerumah di ulang tahunku yang ke 17 ya. Aku tunggu ndra. Sampai bertemu di 30
November.” Isi pesan singkat yang aku tinggal di obrolan facebook. Selama 2
hari berlalu pesan obrolan facebookku tidak di gubris sama sekali. dan sampai
akhirnya aku memutuskan menyalin pesan obrolanku ke situs pertemanan sosial
media lainnya. Selama seminggu tetap saja tidak ada tindakan ataupun jawaban
yang berarti yang menandakan dia sudah membaca pesanku itu.
Minggu pagi hari ini, sudah
memasuki bulan november. Aku bertanya-tanya, mengapa sahabatku itu tidak
menjawab salah satu pesan di media sosialku satupun. Aku hanya bertanya dalam
diamku, apakah dia marah karena aku sudah melupakan hari ulang tahunnya?
Sebenarnya aku tidak lupa, hanya saja aku tidak teringat. Aku tetap dengan
rencana awal, aku akan membuatkan kado yang sudah aku rencanakan sejak awal.
Hari demi hari aku lewati dengan
rasa penasaran. Aku tetap selalu melihat pesanku itu, dan tetap menunggu
balasan dari sahabatku. Sampai akhirnya tanggal 19 November, tepat pada 2 bulan
berlalunya ulang tahun Andra dia membalas pesan obrolan facebookku. “hei
Shabrina, aku baik-baik saja. Pasti nunggu balasan pesan dariku ya? Jangan kaget
bacanya kalau aku tahu. Aku memang sengaja tidak membalas pesanmu, agar kamu
tidak menyiapkan kado untukku di jauh-jauh hari. Hahaha, oke beberapa hari
kemudian aku akan menemuimu di ulang tahunmu yang ke 17 tahun. Aku juga
menunggu kado istimewa darimu, jangan mengecewakanku ya. Sampai bertemu di 30
November brins.” Jawaban pesan dari Andra. Betapa bahagianya, ternyata dia
hanya membuatku penasaran.
Besok sudah 30 November, aku
menyuruh mama untuk memasakkan masakan yang sangat enak kesukaanku. Dengan menu
lengkap dengan yang berbau icecream coklat dengan taburan permen warna-warni
kesukaanku. Walaupun Andra tidak menyukainya, aku tahu Andra pasti mau
memakannya dan menghargaiku. Aku menyiapkan kado yang sudah aku buat beberapa
terakhir ini. Kad yang aku berikan adalah sebuah cerita kecil yang terdapat
foto-foto kita yang paling kucel sampai dengan perpisahan kita di bandara waktu
itu. Aku menelephoneku, dia bilang dia tidak bisa datang kerumahku karena harus
kerumah kakeknya hari ini, dan dia blang bahwa dia akan mengusahakan untuk
bertemu denganku hari ini. Asha teman sebangkuku mengajakku pergi ke taman
dekat komplek rumahku. Aku dan Asha berjalan kaki menyusuri jalanan komplek.
Aku melihat dari jauh, ada yang bercahaya dan sangat indah sekali. aku berlari
menuju taman, dan melihat ada lelaki berkacamata yang tinggi tegap dengan
memabawakan kue tart berbentuk angrybirds. Ternyata itu adalah Andra, aku tidak
menyangka bahwa Andra akan melakukan hal seperti ini. Andra menyanyikan lagu
selamat ulang tahun untukku. Yang tadinya aku kecewa karena dia tidak hadir
kerumah, ternyata Andra membuat kejutan terkeren. Aku menikmati malam ulang
tahunku ini dengan kedua sahabat terbaikku. Terimakasih Tuhan, kau telah
memberikan anugerah dengan keluarga yang lengkap membahagia dan teman-teman
yang baik seperti mereka. “Selamat ulang tahun yang ke 17 Shabrina, semoga
selalu jadi orang yang paling bahagia dan ceria. Ini untukmu.” Ucapan Andra
kepadaku dengan memberikan kado kecil yang lucu dan box besar berwarn merah
dengan gambar kartun angry birds yang aku suka. “jangan di buka sekarang, kamu
boleh buka kalau jam sudah menunjukkan pukul 00.00. okey!” perintah Andra
ketika aku ingin membuka kadonya. “okey, terima kasih banyak karena kamu sudah
meluangkan waktumu untuk bertemu denganku walaupun tak lama. Semoga walaupun
kita hanya bisa bercerita di dunia maya, kita bisa berbagi kebahagiaan seperti
dulu. Ceria-ceria bareng gitu, mama aja suka kangen dan nanyain kamu.” Jawabku dengan
riang penuh rindu. “okey, aku janji. Ohya, Mana kado untukku?” jawab Andra
dengan sedikit muram. “oh iya, ada dirumah. Kamu bilang kamu tidak bisa datang
kerumah, padahal aku sudah menyediakan makanan-makanan kesukaanku yang serba
coklat.” Jawabku ceria. “yah, kebiasaan. Kapan yang serba pedas atau keju. Aku kan
sudah jauh-jauh kesini, nggak di sambut make sesuatu yang enak juga. Yaudah yuk
kerumah kamu, aku juga mau ketemu sama mamamu”. Jawab Andra sedikit jengkel. Akhirnya
kita bertiga kembali kerumahku, dengan membiarkan lilin-lilin kecil di sekitar
taman ini menyala hingga habis masanya. Dan Andra membawakan kue tart berbentuk
angrybirds yang dia berikan untukku, di bawa pulang ke rumahku.
Sesampainya dirumah, mama
menyambut kita dengan sangat gembira. Waktu menunjukkan pukul 9 malam, Asha
berpamitan untuk pulang. Sedangkan Andra, meminta ijin ke mamaku untuk tetap disini
sedikit malam. Karena besok pagi Andra akan kembali ke Singapura, dan mama
mengijinkannya karena mama sudah mengenal mama. Aku dan Andra makan ice cream
coklat pekat kesukaanku. Tidak lupa dengan keju serut, mama selalu ingat bahwa
Andra tidak terlalu suka dengan coklat dan selalu memberi keju parut di atasnya
untuk ice cream punya Andra.
Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam,
Andra berpamitan untuk pergi pulang kerumah kakeknya dan beristirahat. Karena dia
akan kembali pulang ke Singapura besok pagi. “terimakasih untuk waktunya Andra,
sampai bertemu lagi di lain waktu. Maaf untuk kado sederhana yang aku berikan
untukmu” ucapku sebelum dia pergi.”terima kasih juga, sudah menjadi sahabat
terkeren dan tidak pernah berbeda walaupun kita sudah lama tidak bertemu. Semoga
di umur berikutnya kamu lebih bahagia dan tetap seceria ini. Sudah aku balik ya,
selamat membuka kado dariku malam ini. Daaa.” Ucap Andra meninggalkan rumahku.
Aku kembali ke kamar dan melihat
jarum jam dinding dikamarku bergerak. 15 menit lagi aku akan membuka kado dari
Andra. Sambil menunggu waktu, aku memutuskan membuka akun twitterku dan membaca
time line.
Akhirnya waktu menunjukkan pukul
00.00 tepat. Dengan sedikit mengantuk, aku berusaha untuk membuka kado mulai
dari yang terkecil. Kotak mungil yang berisi kalung anak-anak yang bermotiv
angrybirds dan sangat lucu. Didalamnya juga beris kertas kecil. “aku selalu
ingat ngelihat kamu merengek dan suka cemberut kalau lihat barang-barang
angrybirds yang belum kamu punya. Ini memang sedikit konyol, tapi kamu pasti
belum punya kan? Semoga kamu suka” isi dari kertas kecil itu. “aku sangat suka
Andra” batinku dalam hati. Kado misterius yang berbungkus kotak besar bergambar
angrybirds ini giliran sekarang aku buka. Dan lagi-lagi aku bertemu dengan
surat kecil yang beramplopkan angrybirds dan kertas didalamnya pun berbentuk
angrybirds yang di tekuk menjadi 2 agar muat di dalam amplop.”ini sweater bulu
bergambarkan angrybirds yang mungkin juga belum kamu punya. Walaupun umurmu
sudah 17 tahun, supaya kamu tetep awet muda kamu pake ini ya, hehe. Ini kemarin
aku temuin waktu aku liburan di Jepang, dan aku langsung ingat kamu dan
akhirnya aku membelinya. Kalau kamu liburan Jepang mungkin, pakai sweater ini
ya. Karena ini sweater untuk musim dingin. Semoga kamu suka, dan selamat ulang
tahun Shabrina.” Isi surat tersebut. Aku sangat terhanyut dalam surat itu. Sangat
menyenangkan membacanya. Sampai ketemu lagi, aku akan merindukanmu.
THE END